Monday , January 23 2023

Cara Membunuh Ketiadaan Menjadi Ada

Oleh:Yohanes Mau

Hidup manusia tidak terlepas dari berpikir. Manusia berpikir karena aktivitas berpikir itu menghantarnya untuk menggapai sesuatu yang lebih baik dari kemarin-kemarin yang telah pergi. Aktivitas berpikir bisa membantu manusia untuk hidup baik dan lebih berkualitas di masa-masa mendatang. Tentang berpikir ini Descartes punya adegium terkenalnya “Cogito Ergo Sum”; (Aku berpikir maka aku ada). Sedangkan milenial terkini juga tidak mau kalah saing dan mereka punya prinsip sendiri “Colligo Ergo Sum“; (Aku terhubung maka aku ada).
Berpikir adalah tentang ada dan tiada. Sesuatu yang ada dipikirkan sedemikian rupa agar adanya tetap ada dan adanya menjadi kaya makna dan berguna bagi hidup dan kehidupan orang banyak.

Berpikir itu adalah  aktivitas sunyi yang darinya mengalir buah-buah sunyi. Berpikir di dalam sunyi yang paling dalam adalah cara untuk menciptakan sesuatu yang unik dan belum pernah dihasilkan oleh orang lain. Sesuatu yang baru selalu menjadi kejutan bagi publik. Orang akan merasa heran dan bangga ketika melihat sesuatu yang baru. Orang akan bertanya, “gerangan siapakah yang menciptakan hasil karya bagus seperti ini?” Maka di sinilah terjawab penyataan “Cogito ergo sum“; “Aku berpikir maka aku ada.” Keberadaan manusia adalah eksistensi dari hidup dan kehidupan. Manusia ada bukan hanya sekadar ada di dunia ini dan menghiasinya dengan segala keindahan lahiriah dan balutan-balutan penampilan modifikasi terkini. Lebih jauh dan dalam tentang ada dan keberadaan manusia di dunia ini adalah tentang mereka yang aktip berpikir tentang ada dan tiada secara hari ini dan jauh ke depan untuk menjawabi realitas zaman. Artinya keberadaan manusia bukanlah hanya sebagai makluk semu yang ada di dalam kehidupan sosial masyarakat dan bersosial apa adanya. Ada itu menunjukkan hadir dan mampu untuk melihat segala sandiwara realitas hidup masyarakat dari pelbagai aspek. Hadir artinya berusaha untuk melihat segala sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain dengan kaca mata baru. Hadir artinya mengadakan sesuatu yang lain dari segala yang ada dengan cara baru. Maka hal terbaik berpikir dan berpikir selagi masih ada napas. Berpikir itu adalah obat paling mujarab yang tak dijual di mana-mana. Adamu adalah obat yang menghantarmu untuk menggapai usia lanjut di bumi.

Perampok di negeri ini memiliki senjata untuk mengancam, melukai dan membunuh tetapi saya di sini juga punya senjata berpikir untuk membunuh ketiadaan menjadi ada dan tetap ada walaupun suatu saat nanti napas ini akan selesai. Sesuatu yang tercipta dari hasil berpikir akan abadi hingga selanjutnya dan terkenang dari generasi ke generasi. Sebagaimana adegium Descartes, “Cogito ergo sum,”  tertulis abadi dan selalu relevan dari zaman ke zaman dan menyapa konteks realitas hidup manusia secara turun- temurun.

Lantas bagaimana dengan milenial terkini? Milenial makin eksis dan memiliki adegiumnya yang sedang membahana ke seluruh jagad fana. “Colligo ergo sum“; “Aku terhubung maka aku ada.”  Dunia digital memghantar milenial hanyut di dalam rotasinya. Aneka media sosial hadir dan memudahkan kaum milenial dan penghuni jagad turut berpengaruh di dalamnya. Manusia dahulu sebelum adanya media-media komunikasi dan media sosial sangat terbatas untuk terhubung ke empat penjuru arah mata angin. Namun sekarang adalah zaman mileneal terhubung dan menjangkau yang tidak terjangkau. Kemudahan-kemudahan ini yang sangat fatal karena menghanyutkan kaum milenial minus berpikir tentang ada dan hadir di dunia ini. Seluruh pikiran dan konsentrasi terarah kepada keterhubungan yang telah dimudahkan oleh tawaran kemajuan teknologi terkini. Kehadiran teknologi sangat membantu manusia untuk terhubung dengan yang tidak terhubung selama ini. Namun kaum milenial tanpa sadar sedang mengkebirikan pikiran untuk berpikir tentang ada dan hadir yang sebenarnya dengan adegium, “Aku terhubung maka aku ada.”

Maka adegium Descartes, “Cogito ergo sum” menyadarkan kaum milenial untuk tidak hanyut di dalam keterhubungannya hanya lewat komunikasi media-media sosial tetapi lebih dari itu berpikir dan berpikir secara digital pula tentang ada yang sebenarnya. Ada oleh karena keterhubungan di dunia maya beda dengan ada karena keterhubungan di dunia nyata. Dunia nyata adalah dunia tentang fakta-fakta sosial yang mesti dilihat dan diobservasi secara terus menerus untuk diketahui secara baik dan benar nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Tulisan ini hanyalah gugatan sedikit untuk kaum mileneal terkini agar jangan membiarkan diri hilang di dalam keadaan ada yang tidak sebenarnya. Ungkapan, “Aku terhubung maka aku ada” seharusnya dimengerti untuk mempertajam daya pikir tentang ada yang sebenarnya. Ada yang sebenarnya adalah ada di dalam realitas dunia nyata dan ada juga di dalam realitas dunia maya. Artinya hadir dunia digital menjadi sarana jitu yang membantu di dalam berpikir tentang ada dan tiada menjadi ada yang ada yang menghidupkan.

Descartes menantang manusia untuk tetap ada dan ada walaupun suatu saat nanti manusia itu tidak akan ada lagi. Maka hal terbaik adalah adakanlah adamu menjadi ada yang ada dan jangan pernah hilang hanya oleh karena adanya ada yang menghubungkanmu kepada ketiadaan. Hanya berpikir adalah senjata yang dapat membunuh ketiadaan menjadi ada yang ada dan menghidupkan. (**)

Yohanes Mau Warga Belu Utara tinggal di Zimbabwe, Afrika.

About dilipost

Check Also

FALSIFIKASI KARL POPPER DAN PENERAPANNYA DALAM MEMAHAMI RADIKALISME ISLAM

Oleh:Antonio Octaviano Marcelo da Cunha(Alumni Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero) Abstraksi Salah satu persoalan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Dili Post Channel

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement