Saturday , December 3 2022

FALSIFIKASI KARL POPPER DAN PENERAPANNYA DALAM MEMAHAMI RADIKALISME ISLAM

Abstraksi

Salah satu persoalan serius yang menarik perhatian para ilmuawan dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan adalah masalah penentuan batasan akan hakikat kebenaran yang menjadi dasar atas setiap ilmu pengetahuan dalam tradisi keilmuan yang dibangun. Realitas demikian mendorong para ilmuawan untuk mencari tahu akan metodologi seperti apakah yang digunakan oleh masing-masing tradisi dalam menentukan kebenaran ilmu pengetahuan yang dibangun. Hal ini kemudian memunculkan berbagai asumsi dan teori yang menmbicarakan soal batas-batas kebenaran ilmu pengetahuan, dan salah satunya adalah teori falsifikasi yang dikemukakan oleh Karl Raymond Popper.

Teori Falsifikasi Popper menegaskan bahwa kebenaran proposisi suatu ilmu tidak ditentukan melalui uji verifikasi, tetapi upaya penyangkalan atas kebenarannya melalui berbagai percobaan yang sistematis. Di sini falsifikasi merupakan suatu langkah metodologis untuk menguji sebuah sistem teori. Langkah metode tersebut dilakukan dengan cara deduktif. Dalam hal falsifikasi, Popper menegaskan bahwa setiap sistem ilmiah dapat dikatakan salah jika proposi-proposisi basis atau kalimat-kalimat yang menyatakan fakta tertentu, menyangkal sistem ilmiah tersebut. Dengan perkataan lain, suatu hipotesis dengan sendirinya gugur jika kalimat-kalimat basis menyangkalnya. Penerimaan  atas suatu teori hanya dapat dipertanggungjawabkan melalui aturan falsifikasi. Teori falsifikasi Popper ini tampaknya sangat baik jika diterapkan dalam studi dalam  memahami praktik radikalisme Islam.

Key words : falsifikasi; metodologi; radikalisme Islam; teori kebenaran

Pendahuluan

Salah satu upaya untuk mencari batasan pengetahuan yang benar, dalam tradisi pemikiran di barat bukan saja telah melahirkan berbagai asumsi dasar serta paradigma beragam, tetapi juga telah melahirkan berbagai metodologi yang diyakini dapat memberi jaminan bagi kebenaran pengetahuan yang diperoleh. Menurut Bacon, pengetahuan yang benar atau ilmiah akan diperoleh melalui penerapan metode induksi berdasarkan eksperimen dan observasi.[1] Ini berbeda dengan Rasionalisme Descartes yang berpandangan bahwa pengetahuan yang benar seperti itu diperoleh melalui penerapan prinsip cogito ergo sum, yang berpatokan pada terpenuhinya syarat clear and distinct dari suatu ide hingga ia tidak bisa diragukan lagi.[2]

Di antara pandangan tentang kesahihan pengetahuan seperti di atas, pandangan kaum positivisme-lah yang paling dominan. Ia memiliki pengaruh sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, terutama bagi ilmu-ilmu alam. Bagi kaum Positivisme, kebenaran suatu pengetahuan haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut; observable (teramati), repeatable (terulang), measurable (terukur), testable (teruji), dan predictable (terramalkan).[3] Artinya jika suatu pernyataan dapat diverifikasi, maka ia bermakna, sebaliknya jika tidak dapat diverifikasi berarti ia tidak bermakna. Prinsip verifikasi ini menegaskan bahwa suatu proposisi adalah bermakna jika ia dapat diuji dengan pengalaman dan dapat diverifikasi dengan pengamatan (observasi). Perkembangan pandangan ini semakin pesat semenjak munculnya positivisme logis.[4] Keberadaan “keberhasilan” verifikasi melalui eksperimen dan observasi begitu penting bagi kaum positivisme logis untuk menentukan kebermaknaan suatu proposisi atau penyataan yang kerap dipakai dalam membangun proposisi-proposisi keilmuan atau pengetahuan. Sejumlah besar verifikasi, baik melalui eksperimen atau observasi, dijadikan dasar oleh kaum positivisme logis.[5]

Namun dibalik kokohnya bangunan proposisi-proposisi keilmuan yang diformulasi kaum positivisme seperti itu, ternyata tidak lepas dari kritik beberapa tokoh lainnya dan salah satunya adalah Karl Raymond PopperKarl Popper. Dia menolak penerapan prinsip verifikasi, yakni pembuktian teori melalui fakta-fakta, yang dijadikan oleh kaum positivisme logis sebagai garis demarkasi antara pengetahuan dan non pengetahuan.[6] Popper memusatkan seluruh filosofinya di sekitar karakter pengetahuan manusia yang secara intrinsik bisa salah. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak bertumpu pada batuan dasar yang kokoh, tetapi menancapkan akarnya ke dalam rawa berlumpur.[7] Ini seperti bangunan yang didirikan di atas tumpukan. Tumpukan didorong turun dari atas ke dalam rawa, tetapi tidak turun sampai ke dasar alam; dan jika kita berhenti mendorong tumpukan lebih dalam, itu bukan berarti kita telah mencapai landasan yang kokoh. Kita berhenti begitu saja jika kita sudah puas bahwa tiang cukup kokoh untuk menopang struktur, yang setidaknya untuk sementara.[8]

 Filsafat Popper menyediakan jalan tengah antara dua pendekatan otoriter yang berlawanan terhadap sains dan masyarakat yaitu: dogmatisme dan relativisme. Ini menawarkan penjelasan tentang bagaimana pengetahuan ilmiah bisa objektif dan rasional tanpa kepastian, dan tanpa menarik induksi atau membumi sendiri pada pendapat ahli, konsensus, dan otoritas dalam bentuk apa pun. Ciri inti dari pemikiran Popper yakni untuk memahami ide-ide tentang objektivitas dan rasionalitas, serta tentang politik dan masyarakat  adalah bahwa pengetahuan itu tidak suatu bentuk keyakinan yang dibenarkan.[9] Menurut Popper, kita harus lebih memilih teori yang pada setiap tahap dibangun dengan diskusi kritis tertentu, menyelesaikan pertumbuhan konten empiris yang mungkin dikuatkan yaitu, yang telah bertahan dari upaya penyangkalan atau falsifikasi yang tulus. Tidak ada proses induktif yang melaluinya teori dapat dikonfirmasi; dalam filsafat sains Popper, tidak ada tempat untuk teori pembenaran.[10]

Dalam kata-kata Joseph Agassi: pentingnya sanggahan terhadap pendapat yang diterima, atau pendapat atau gagasan atau proposal ilmiah, sebab sanggahan membuka jalan menuju inovasi. Tidak ada yang lebih kuat dari heuristik selain sanggahan. Tidak ada yang lebih kondusif untuk kemajuan daripada kritik terhadap situasi saat ini, tidak ada yang lebih mungkin untuk menunjukkan yang baru daripada ketidakpuasan dengan yang lama. Kritik adalah pembebasan.[11]

Kerangka konseptual demikian, menginspirasi penulis untuk secara ilmiah menganalisis pemikiran Karl Raimond Popper. Penulis memfokuskan diri pada pembahasan pemikiran Karl Raimond Popper terutama terkait masalah falsifikasi, yang ia jadikan sebagai prinsip demarkasi antara ilmu dan teori yang meaningfull (Kebermaknaan) dan yang meaningless (ketidak bermaknaan). Selanjutnya, bagaimana prinsip demarkasi tersebut diterapkan dalam praktik radikalisme Islam, yang dalam banyak hal juga tidak dapat dilepaskan dari tuntutan keberadaan meaningfull atau kebermaknaan dari konsep radikalisme keislaman tersebut bagi kehidupan manusia. Memang, tanpa disadari seringkali kebermaknaan radikalisme Islam terjebak dalam ranah dogmatisasi, sehingga siapa pun yang mencoba mengembangkannya menjadi terjebak dalam ketakutan akan dosa. Sebuah sikap yang menyebabkan radikalisme islam menjadi tidak mampu berkembang secara dinamis. Penulis merangkum seluruh gagasan ini dalam sebuah karya tulis dengan judul:Falsifikasi Karl Popper dan Penerapannya dalam Memahami Radikalisme Islam.”

Karl Raimond Popper : Biografi Singkat dan Karya-Karyanya

Karl Popper lahir di Himmelhof, di distrik Wina, pada 28 Juli 1902, dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Keluarganya berasal dari Yahudi; ayahnya bernama Simon, adalah seorang pengacara dan ibunya bernama Jenny Schiff. Karl Popper memulai pendidikannya di Realgymnasium, tetapi dia tidak puas dengan instruksi yang dia terima di sana. Akhirnya setelah lama menderita sakit yang membuatnya tetap tinggal di rumah selama lebih dari dua bulan, dia kemudian menjadi yakin bahwa kelasnya tidak lagi menawarkan ruang lingkup untuk kemajuan yang signifikan. Oleh karena itu dia pergi pada akhir tahun 1918 dan mendaftarkan diri di Universitas Wina, tetapi baru diterima sebagai mahasiswa di universitas Wina pada tahun 1922.[12]

Dalam perjalan, dia kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Asosiasi Sosialis, dan selama beberapa bulan pada tahun 1919 menganggap dirinya sebagai seorang komunis. Namun pada akhrin ia kecewa dengan karakter dogmatis Marxisme, dan dia memutuskan untuk menjauhkan diri, tetapi terus menyebut dirinya sosialis selama beberapa tahun.[13]

Tahun 1919 dia bergabung dengan Asosiasi Siswa Sekolah Sosialis, tetapi kemudian dia berhenti. Pada musim ini dia menganggap psikoanalisis Freud dan ‘psikologi individu’ Alfred Adler sebagai kekurangan status ilmiah, tidak seperti teori Einstein yang memberi kesan yang kuat padanya selama tahun kritis itu. Dia berhasil menghadiri kuliah di Wina di mana Einstein mengungkapkan tentang yang ‘linglung (dazed)’ di hadapannya; sebuah kosmologi baru yang menantang mekanika Newton dan elektrodinamika Maxwellian, keduanya sampai sekarang diterima sebagai kebenaran tanpa keraguan. Pertemuan yang menentukan ini mengungkapkan kepada mahasiswa fisika muda perbedaan antara posisi Marx, Freud dan Adler, dan posisi Einstein yaitu: pertama adalah sikap dogmatis yang mencari verifikasi, sedangkan yang terakhir merupakan pendekatan kritis yang tidak mencari konfirmasi tetapi yang dicari adalah pengujian secara ilmiah. Popper yakin bahwa yang membedakan ilmuwan adalah sikap kritis.[14]

            Pada tahun 1925, Popper mulai masuk ke Pedagogic Institute, dimana ia kemudian bertemu dengan wanita yang akhirnya menjadi istrinya. Tahun 1928, di kota yang Popper tinggal dan belajar selama ini, secara resmi lahir Lingkaran Wina (Vienna Circle) dengan ‘konsepsi ilmiah tentang dunia’ yang lebih dikenal sebagai positivisme logis.[15] Awal tahun 1932, setelah beberapa tahun bekerja, Popper menyelesaikan karyanya jilid pertama dari dua masalah mendasar dari teori pengetahuan (the first volume of The Two Fundamental Problems of the Theory of Knowledge); yang terbit pada tahun 1934 dengan judul Logik der Forschung.[16]  Setelah melewati perjalan yang panjang dan peristiwa kematian istrinya; akhirnya Popper memutuskan untuk meninggalkan rumah yang telah mereka tinggal selama bertahun-tahun dan pindah ke Kenley, dekat London, hingga kematiannya pada  17 September 1994.[17]

Prinsip Falsifikasi Karl R. Popper                               

Sebagaimana disebutkan dalam uraian biografi singkat Karl R. Popper di atas bahwa meski Popper banyak berkenalan dengan gagasan-gagasan para filsuf yang tergabung di lingkaran Wina atau kaum positivism logis, namun ia tidak sependapat dengan gagasan mereka dalam bidang keilmuan. Popper membedakan kemungkinan untuk salah dan prinsip falsifikasi. Kemungkinan untuk salah merupakan suatu kriteria dari setiap sistem teori empiris: artinya, setiap pernyataan empiris mengandung kelas kemungkinan untuk salah. Tetapi falsifikasi merupakan suatu langkah metodologis untuk menguji sebuah sistem teori. Langkah metodologis tersebut dilakukan dengan cara deduktif.[18]

 Popper mengakui bahwa positivisme logis memiliki manfaat menjadi satu-satunya teori pengetahuan modern yang telah memperjuangkan empirisme ketat (strict empiricism), ia tidak dapat membantu menentang tesis kemahakuasaan sains (omnipotence of science), yang mendasari prasangka induktivis dan kontradiksi epistemologis khusus. Bagi young Popper, positivisme logis tidak hanya gagal untuk melakukan keadilan terhadap praktik ilmiah yang nyata, tetapi juga mendorong dogma yang tidak dapat diterima yang menyatakan bahwa apa yang tidak dapat kita ketahui dengan pasti tidak ada (what we cannot know with certainty does not exist).[19]

 Lebih jauh, Popper bersikeras bahwa kriteria verifiabilitas (verifiability criterion) menghilangkan makna pernyataan ilmiah yang paling penting yaitu, teori ilmiah dan terutama yang dirumuskan sebagai hukum alam. Karena dalam teori apa pun kita menemukan pernyataan universal yang menegaskan lebih dari apa yang dapat diverifikasi. Metode ilmiah mengandaikan keabadian proses alam, atau “prinsip keseragaman alam” (Scientific method presupposes the immutability of natural processes, or the principle of the uniformity of nature), dan asumsi ini sudah mengungkapkan keyakinan metafisik pada keteraturan dunia yang tidak pernah dapat dibuktikan secara empiris.[20]

Namun demikian, upaya kita untuk memperoleh pengetahuan tidak lain adalah pencarian keteraturan (a quest for regularity); kita tidak dapat melakukannya selain menyatakan hukum alam, pernyataan umum yang ketat tentang realitas, dan menundukkannya untuk diuji. Oleh karena itu, hukum alam bukan sekadar catatan dari serangkaian pengamatan; mereka adalah sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang berbeda yang melibatkan langkah melampaui pengalaman dan dengan demikian bersifat meta-empiris (meta-empirical) yaitu, metafisik tidak dapat diverifikasi dalam parameter positivisme yang ketat. Bertentangan dengan kriteria verifikasi yang diajukan oleh Lingkaran Wina, oleh karena itu Popper mengajukan kriterianya sendiri tentang falsifiability.[21] 

Dalam hal falsifikasi, Popper menegaskan bahwa setiap sistem ilmiah dapat dikatakan salah jika proposisi-proposisi basis atau kalimat-kalimat yang menyatakan fakta tertentu, menyangkal sistem ilmiah tersebut. Dengan perkataan lain, suatu hipotesis dengan sendirinya gugur jika kalimat-kalimat basis menyangkalnya. Aturan pengujian ini tentu tidak pertama-tama bermaksud untuk menegaskan bahwa setiap sistem teori harus dinyatakan salah; sebaliknya, penerimaan atas suatu teori hanya dapat dipertanggungjawabkan melalui aturan falsifikasi.[22] Ini menyiratkan bahwa hukum alam, dan pernyataan teori ilmiah, tidak pernah bisa diverifikasi tapi hanya bisa dipalsukan. Popper menegaskan bahwa pengetahuan berkembang melalui metode dugaan dan sanggahan. Sebuah hipotesis diajukan dan diperiksa dengan cermat dengan upaya untuk menunjukkan bahwa hipotesis itu salah. Jika berhasil bertahan dalam ujian semacam itu, ia diterima untuk sementara, meskipun kebenarannya tidak akan pernah bisa diketahui.

Di sini falsifikasi merupakan suatu langkah metodologis untuk menguji sebuah sistem teori. Langkah metode tersebut dilakukan dengan cara deduktif. Dalam hal falsifikasi,  Popper menegaskan bahwa setiap sistem ilmiah dapat dikatakan salah jika proposi-proposisi basis atau kalimat-kalimat yang menyatakan fakta tertentu, menyangkal sistem ilmiah tersebut. Dengan perkataan lain, suatu hipotesis dengan sendirinya gugur jika kalimat-kalimat basis menyangkalnya. Penerimaan  atas suatu teori hanya dapat dipertanggungjawabkan melalui aturan falsifikasi.[23] Proses falsifikasi di sini, merupakan sebuah metode rasionalisme Kritik yang dibangun Karl Popper untuk menguji hipotesis ilmiah dari ilmu pengetahuan. Popper menggunakan kritik sebagai metode untuk mencapai kebenaran. Kritik yang dimaksudkan di sini adalah sebuah pendekatan rasional ilmiah untuk menguji apakah sebuah anggapan, hipotesis, atau teori benar.[24]

 Gagasan tentang falsifikasi inilah yang oleh dirinya dijadikan sebagai ciri utama proposisi atau teori yang ilmiah. Menurutnya, suatu proposisi atau teori empiris harus dilihat potensi kesalahannya. Selama suatu teori mampu bertahan dalam upaya falsifikasi, maka selama itu pula teori tersebut tetap dipandang kokoh, meski ciri kesementaraannya tetap tidak pernah hilang. Suatu teori bersifat ilmiah, jika terdapat kemungkinan secara prinsipil untuk menyatakan salahnya. Inilah yang dimaksud dengan prinsip falsifikasi menurut Popper. Sebaliknya, jika suatu proposisi atau teori secara prinsipil tidak menerima kemungkinan untuk menyatakan salahannya, maka proposisi atau teori tersebut tidak bersifat ilmiah. Dengan penjelasan tentang aturan falsifikasi ini, Popper secara tidak langsung menolak verifikasi sebagai metode pengujian hipotesis atau teori.[25] Teori ini disebut falsifikasi untuk dibedakan dari pendekatan positivistis yang menekankan verifikasi.

Penerapan Falsifikasi Popper dalam Memahami Radikalisme Islam

Teori falsifikasi Popper ini dipandang memiliki kontribusi besar bagi perkembangan ilmu, terutama dalam mengisi kekosongan metode ilmiah yang ditinggalkan oleh Bacon, yang hanya terfokus pada metode induktif. Mengandalkan penerapan prinsip induktif semata dalam membangun kebenaran suatu ilmu atau teori, tidak lepas dari kelemahan yang menurut Popper hanya akan mengakibatkan kemubaziran atau inkonsistensi-inkonsistensi logis.[26]

Dalam pandangan falsifikasionisme, tidak ada teori atau ilmu yang memiliki kebenaran yang bersifat definitif atau final, yang ada hanyalah bersifat hepotesis atau dugaan sementara. Dari sinilah, penerapan metode deduktif untuk pengujian keterhandalan suatu teori sangat memungkinkan, karena itu ilmu pengetahuan akan terus berkembang.[27]

Prinsip falsifikasionisme seperti ini dapat mendatangkan sikap kritis, yang merupakan elemen penting bagi pengembangan suatu ilmu. Penerapan konsep falsifikasi ini memungkinkan seseorang menemukan teori yang baru serta melakukan kritik terhadap bangunan keilmuannya sendiri tanpa harus merasa dipermalukan. Ini juga akan memberikan kebebasan yang lebih bagi seorang intelektual untuk bereksperimen. Sehingga tidaklah salah jika dikatakan bahwa pemikiran falsifikasi Popper ini memiliki efek praktis yang kemungkinan besar penerapannya mengubah pandangan radikalisme Islam.[28]

Prinsip falsifikasionisme seperti ini juga memberikan keterbukaan bagi ilmuwan untuk melakukan uji kesalahan terhadap berbagai teori yang ada, meski ia dibangun berdasarkan pandangan metafisik, agama, atau yang lain.[29] Falsifikasionisme tidak membatasi bahwa suatu teori harus dibangun berdasarkan prinsip induktif semata, tetapi apakah teori tersebut bertahan terhadap uji kesalahan atau tidak. Jika teori tersebut bertahan terhadap uji kesalahan, hal itu artinya teori itu bersifat corroborative. Seseorang dapat menerima untuk sementara hipotesis yang dikemukakan oleh teori tersebut sambil yang bersangkutan terus melakukan penolakan (refutation). Prinsip falsifikasi menegaskan bahwa kekuatan suatu statement atau teori itu bukan ditentukan dari tingkat validitas atau kebenaran teori tersebut namun ditentukan dari apakah teori tersebut dapat dibuktikan atau diuji kesalahannya.[30]

Dengan kerangka konseptual demikian, tampaknya sangat menarik jika prinsip falsifikasi Popper diterapkan dalam memahami radikalisme Islam.

Secara historis, radikalisme Islam pada zaman dulu banyak dilatarbelakangi oleh adanya kelemahan umat Islam baik pada bidang aqidah (iman), syariah (ajaran Islam) maupun perilaku, sehingga radikalisme Islam merupakan ekspresi dari tajdid (pembaharuan), islah (perbaikan), dan jihad (perang) yang dimaksudkan untuk mengembalikan muslim pada ruh (roh) Islam yang sebenarnya.[31] Akan tetapi jika kita menelusuri para pendapat dari para ahli terkait faktor pemicu munculnya radikalisme Islam di zaman modern ini sangat kompleks.

Hasan menganggap bahwa radikalisme Islam merupakan strategi baru melakukan reaksi dominasi barat terhadap dunia Islam yang kemudian memunculkan aktivisme berbendera agama untuk menuntut reposisi peran Islam dalam ruang politik kenegaraan, yang upaya ini telah dirintis melalui pemikiran Hasan al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Abul A’la Maududi pendiri Jama’at Islami di Indo Pakistan. Radikalisme Islam juga merupakan bahasa protes yang digunakan oleh orang-orang yang terpinggirkan dalam arus deras modernisasi dan globalisasi.[32] Selanjutnya, Mubarak menyebutkan dua penyebab utama terjadinya radikalisme agama khususnya pada Islam yakni faktor deprivasi relatif dan terjadinya disorientasi nilai-nilai yang diakibatkan modernisasi.[33]

Menurut para ahli, akar radikalisme agama juga melibatkan faktor agama yakni dilakukan dengan landasan-landasan moral agama yang ada dalam al-Qur’an termasuk tradisi keagamaan yang berkembang dalam kelompok agama. Ajaran-ajaran tersebut dipersepsi sedemikian rupa, bisa mengendalikan juga, bisa mendukung tindakan kekerasan.[34] Para pemerhati lainnya juga berpendapat bahwa perilaku kekerasan yang dilakukan umat Islam senantiasa melibatkan aspek agama dan ideologi yang dianut, setidak-tidaknya sebagai landasan moral, legitimasi perbuatannya, penyemangat, bahan provokasi dan ancaman.[35] Kelompok muslim yang berafiliasi pada Islam radikal, melakukan tindakan kekerasan atau seruan agama dengan kecenderungan agresif dengan dalih melakukan dakwah, amar makruf nahi munkar, dan jihad [36] untuk memberantas ketidakadilan, menegakkan kebenaran, pemerataan kemakmuran, dan semacamnya.[37]

Terkait hal ini, Suseno menyatakan bahwa setiap orang yang sudah berada dalam mental terorisme karena perasaan frustrasi kolektif yang mendalam atau karena kebingungan dengan tantangan-tantangan modernitas. Hal ini sering berkaitan dengan ekslusivisme agamistis dengan ciri khas mereka menganggap interpretasi mereka tentang agama sebagai satu-satunya yang benar.[38]

Diskursu radikalisme dalam islam yang akhir-akhir ini menarik semua pihak memiliki keterkaitan yang spesifik dengan gerakan fundamentalisme di dunia Islam. Fundamentalisme dalam Islam merupakan gerakan yang menentang westernisasi dan ditampilkan sebagai gerakan alternative system of life bagi masyarakat muslim. Ekstremitas kaum fundamentalis secara internal disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kecenderungan memahami nash secara literal, perhatian yang berlebihan pada furu’iyah,[39] minimnya wawasan tentang hakikat Islam, dan lemahnya wacana keilmuan sejarah dalam kehidupan sosial.[40]

 Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa munculnya radikalisme dalam Islam karena dilatarbelakangi oleh faktor-faktor tertentu termasuk tafsiran yang tidak benar terhadap teks al-Qur’an yang kemudian mempengaruhi para penganut agama Islam dalam cara berpikir dan bertindak sesuai dengan  aturan-aturan yang merupakan hasil konstruksi para pemikir dan pemeluk agama, sebagai konsekuensi dari ajaran dalam teks al-Qur’an yang bersifat dasar, hanya memuat pokok-pokok ajaran dan tidak bersifat rinci.

Terlepas dari alasan di atas, ada juga faktor lain yang memicu lahirnya radikalisme islam yakni minimnya pengetahun dan kapasitas dalam menafsir dan memahami al-Qur’an, Khususnya mengenai metodologi memahami al-Qur’an; beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang cenderung mengikuti cara pandang kaum fundamentalis dan biblical literalist, lebih berpeluang memiliki persepsi agresif terhadap ajaran agama. Kaum literalis disebut juga tekstualis atau skriptualis adalah kelompok yang memaknai al-Qur’an dengan mementingkan huruf-huruf yang tertera dalam al-Qur’an, berdasarkan arti kata-perkata dan kalimat per-kalimat, kurang memperhatikan bentuk-bentuk sastra, struktur teks, konteks sosiologis, situasi historis, kekinian dan kedisinian, kondisi subjektif penulis misalnya kejiwaan ketika menulis teks.[41]

Hal ini yang kemudian memicu lahirnya radikalisme Islam karena para ulama tidak ada pengetetahun dan kemampuan dalam menafsira al-Qur’an; justru sebaliknya, yang terjadi hanyalah konstruksi pimikiran semata dan dan bebas menafsir teks-teks al-Qur’an sesuka hati dan tidak sesuai dengan hakikat al-Qur’an itu sendiri. Sehingga yang terjadi adalah orang-orang cenderung mengikuti cara pandang kaum fundamentalis dan biblical literalist, yang memiliki persepsi agresif terhadap ajaran agama.

Realiatas ini menghantar orang pada jalan yang tidak benar dan kemudian membentuk suatu steriotipe dan mentalitas yang membuat mereka merasa diri paling benar bahwa apa yang mereka anut adalah kebenaran yang mutlak yang tidak bisa dingganggu gugat; apa lagi dalam konteks iman yang ajarananya merupakan suatu dogma yang harus ditaati secara mutlak. Dalam hal ini kita bisa melihat bahwa kaum radikalisme adalah aliran yang menghendaki perubahan sosial dan politik dengan cara menggunakan kekerasan sebagai batu loncatan untuk menjustifikasi keyakinan mereka yang dianggap benar; meskipun ajaran ini dalam praktiknya menyebabkan terjadinya konflik berdarah dan merusak nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keadaban.[42]

Dalam hal ini, Karen Armstrong, seorang pakar pengkaji agama terkemuka di Eropa dan Amerika, membuat statemen menarik terkait dengan masalah keberagamaan umat manusia, yaitu bahwa ujian satu-satunya bagi keabsahan ide religius, pernyataan doktrinal, pengalaman spiritual, atau prakti peribadatan adalah bahwa ia harus menggiring kea rah tindakan belas kasih. Jika pemahaman anda tentang yang Ilahi membuat anda lebih ramah, lebih empatik, dan mendorong anda untuk menunjukkan  simpati dalam tindakan nyata,  itulah teologi yang baik. Akan tetapi, jika pemahaman anda  tentang Tuhan membuat anda tidak ramah, pemarah, kejam, tau merasa benar sendiri atau jika itu menggiring anda membunuh atas nama Tuhan, itu adalah teologi yang buruk.[43]

Islam memiliki ajaran yang bersifat universal dan komprehensif, mengandung unsur-unsur ajaran yang kompleks, di mana pada bagian tertentu terdapat prinsip-prinsip ajaran yang bersifat ekslusif (akidah) dan pada bagian-bagian lainnya (hubungan sosial) bersifat inklusif. Ekslusivisme yang dimaksudkan di sini adalah suatu pandangan dalam Islam yang meyakini keunggulan dari kebenaran ajaran Islam, sekaligus menegasikan ajaran agama lainnya, sehingga tentu saja ada kecenderungan tindakan dan keyakinan yang berbeda ketika tampil dalam masyarakat plural.[44]

Kehadiran radikalisme Islam yang awalnya sebagai fenomena politik ternyata mengarah pada perilaku kekerasan sistematik, kekerasan aktual, dan kekerasan simbolik. Hal ini tetaplah mengancam umat manusia, karena kerakteristik gerakan mereka yang tidak mau berdialog dengan pihak lain. Mereka memaksakan pendapatnya kepada pihak lain dengan segala cara untuk bisa menerima gagasannya dan jika ada yang menolak, maka mereka tidka segan-segan memvonis kafir serta wajib diperangi sampai titik darah penghabisan.[45]

Berhadapan dengan realitas faktual demikian, tentu kita berharap agar hal tersebut tidak terus dibiarkan dan menghancurkan nilai-nilai keagamaan dan juga nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena prinsip falsifikasi Popper sangat relevan untuk diterapkan pada kajian terhadap pemikiran para sarjana Muslim dan juga para ulama tentang teks al-Qur’an yang berhubungan dengan sains, atau tentang pemikiran mereka terkait konsep-konsep agama, sehingga falsifikasi Popper dapat membantu mereka untuk terbuka terhadap realitas yang ditandai dengan perbedaan dan juga memampukan mereka untuk membangun dialog dengan agama lain.

Dalam hal ini, kita bisa melihat semangat keilmuan yang dikandung oleh pemikiran Popper ini, bahwa sebuah teori bukanlah kebenaran. Teori masih membutuhkan pengkajian lebih jauh untuk menemukan kelemahan-kelemahan di dalamnya untuk kemudian dibangun sebuah penyempurnaan. Sikap dogmatis pada sebuah teori tertentu akan membawa ilmuwan pada kematian ilmu pengetahuan. Sekali lagi, Popper mengatakan bahwa predikat terbaik yang bisa dicapai oleh sebuah teori adalah mendekati kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Conjecture dan falsification adalah tawaran Popper pada ilmu pengetahuan untuk membebaskan ilmu pengetahuan dari kematian dini.[46]

Oleh karena itu, dalam rangka membangun kerukunan hidup dalam masyarakat yang pluralis, terutama dari aspek agama, maka kegiatan dialog lintas agama mengenai dimensi-dimensi ekslusivitas dan inklusivitas amat diperlukan. Melalui dialogi ini, umat dari masing-masing agama bisa saling mengenal dimensi-dimensi ekslusivitas agama selain dari agama yang dianutnya. Dengan demikian, diharapkan ada perubahan pandangan dan sikap terbuka para penganut agama yang berbeda, yakni semakin saling menghargai perbedaan dan bersikap toleran terhadap dimensi-dimensi ekslusivitas dalam ajaran agama pihak lain, serta tidak menimbulkan sikap fanatisme-negatif yang mengarah pada tindakan radikal.[47]

Hal ini bisa dapat tercapai, jika teori falsifikasi Popper diterapkan dalam praktik kehidupan beragama demi membangun suatu sikat kritis terhadap konsep-konsep iman dan ajaran agama yang tidak benar. Penerapan konsep falsifikasi ini memungkinkan seseorang menemukan teori yang baru serta melakukan kritik terhadap bangunan konsep dan ajaran-ajaran agamanya sendiri tanpa harus merasa dipermalukan. Ini juga akan memberikan kebebasan yang lebih bagi seorang intelektual untuk bereksperimen dengan demikian akan tumbuh suatu sikap keterbukaan akan realitas peradaban untuk saling menerima perbedaan dan membangun suatu kesadaran bahwa tidak ada kebenaran mutlak, yang terjadi hanyalah mendekati kebenaran.

Kesimpulan

Pendekatan Karl Raymond Popper yang disebut “falsifikasi” merupakan sebuah sumbangsi metode ilmu pengetahuan dalam memahami hakekat kebenaran perkembangan ilmu pengetahuan, yang juga memiliki sumbangsi dalam memahami faktor pemicu lahirnya radikalisme Islam. Proyek falsifikasi Karl Popper telah mampu memberikan suatu metode hipotesis ilmiah yang merangkul ilmu pengetahuan lainnya dalam memahami batas-batas ilmu pengetahuan. Namun demikian, klaim Karl Popper tentang falsifikasi sebagai sebuah metode ilmiah yang memilik validitas dan superioritas bukan berarti untuk menghemonisasikan metode ilmu pengetahuan yang lain; karena menurut hemat saya, setiap metode ilmu pengetahua adalah suatu definisi yang kompleks dan paradoks yang sulit untuk didefinisikan dari suatu perspektif tertentu yang mampu merangkul berbagai element dari fenomena perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri; oleh karena itu, hemat saya pendekatan falsifikasi Karl Popper harus tetap merangkul pendekatan yang lainnya karena Ilmu pengetahuan adalah suatu fenomena yang tumbuh secara situasional dan kentekstual yang sulit untuk didefisinikan secara mutlak dari suatu pendekatan tertentu. Dengan demikian ilmu pengetahuan merupakan suatu fenomena yang butuh diterangi melalui berbagai pendekatan metode ilmu pengetahuan.

Daftar Pustaka

Buku

  1. Corvi, Roberta. An introduction to the thought of Karl Popper. New York: Routledge, 1997.
  2. Dua, Mikael. Filsafat Ilmu Pegetahuan.  Maumere: Penerbit Ledalero, 2009.
  3. Descartes, Rene, Diskursus Metode, terj. Ahmad Faridl Ma’ruf, Yogyakarta : IRCiSoD, 2003
  4. Edward, Paul , The Encyclopedia of Philosophy, vol. V, New York, London : Mcmillan Publishing Co. Inc. and The Free Press, 1967
  5. Gattei, Stefano. Karl Popper’s Philosophy of Science Rationality Without Foundations. New York: Routledge, 2009.
  6. Hasan, D. Radikalisme Islam: Jejak Sejarah, Politik Identitas, dan Repertoire Kekerasan. Dalam Mu’tasim (ed.). Model-Mode Penelitian dalam Studi Keislaman. Yogyakarta: Lemlit UIN Sunan Kalijaga, 2006.
  7. Mubarak, M.Z. Genealogi Islam Radikal di Indonesia. Jakarta: LP3ES, 2008.
  8. Martin, G. Understanding terrorism: Challenges, Perspectives and Issues. London: Sage Publication, 2003
  9. Popper, Karl R., Logika Penemuan Ilmiah, terj. Saut Pasaribu & Aji Sastrowardoyo, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008
  10. Suprayogo, I. & Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.
  11. Taryadi, Alfons,  Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991
  12. Thalib, J.U. Radikalisme dan Islamo Phobia. Dalam: Islam dan Terorisme (Z.A. Maulani, dkk.; ed.). Yogyakarta: UCY Press, 2003.
  13. Zaprulkhan, Merenda Wajah Islam Humanis. Yogyakarta: Ide sejahtera, 2014

Jurnal

  1. Komarudin, “Falsifikasi Karl Popper Dan Kemungkinan Penerapannya Dalam Keilmuan Islam”, Jurnal at-Taqaddum, Vol. 6, No. 2. Nopember., 2014.
  2. Mufid, Fathul  “Radikalisme Islam Dalam Perspektif Epistemologi” Jurnal ADDIN, Vol. 10, No. 1, Februari, 2016
  3. Nurjannah, “Faktor Pemicu Munculnya Radikalisme Islam Atas Nama Dakwah” Jurnal Dakwah, Vol. XIV, No. 2 Tahun, 2013.
  4. Wiktorowicz, Q. Radical Islam Rising: Muslim Extrimism in the West. Canadian Journal of Sociology Online March-April 2006. Diunduh dari http//www.cjsonline.ca/reviews/radicalislam.html pada 30 Agustus 2007

Internet

  1. Wikipedia.“Dakwah Islamiyah”http://wikipedia. 29 Nov. 2021.
  2. Arbian. “Istilah Perkara Furu’iyah. Artinya?” http://brainly.co.id. 30 Nov. 2021.

[1] Komarudin, “Falsifikasi Karl Popper Dan Kemungkinan Penerapannya Dalam Keilmuan Islam”, Jurnal at-Taqaddum, Vol. 6, No. 2, ( Nopember 2014), hlm. 445.

[2] Rene Descartes, Diskursus Metode, penerj. Ahmad Faridl Ma’ruf (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), hlm. 38.

[3] Komarudin, Op.Cit., hlm. 445.

[4] Ibid.,

[5] Ibid.,

[6] Ibid., hlm. 447.

[7] Stefano Gattei, Karl Popper’s Philosophy of Science Rationality Without Foundations (New York: Routledge, 2009), hlm. 1.

[8] Ibid.,

[9] Ibid.,

[10] Ibid., hlm. 2-3.

[11] Ibid.,hlm. 4

[12] Roberta Corvi, An introduction to the thought of Karl Popper,( New York: Routledge, 1997), hlm. 3.

[13] Ibid.,

[14] Ibid., hlm. 4-5.

[15] Ibid., hlm. 6.

[16] Ibid.,

[17] Ibid., hlm. 10

[18] Mikhael Dua, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Maumere: Penerbit Ledalero, 2009), hlm.72.

[19] Roberta Corvi, Op.Cit.,hlm. 21.

[20] Ibid., hlm 21.

[21] Ibid.,

[22] Mikhael Dua, Op.Cit., hlm.72.

[23] Ibid., hlm. 72.

[24] Ibid., hlm. 54.

[25] Paul Edward, The Encyclopedia of Philosophy, vol. V, (New York, London : Mcmillan Publishing Co. Inc. and The Free Press, 1967), hlm. 294.

[26] Karl R .Popper, Logika Penemuan Ilmiah, Penerj. Saut Pasaribu dan  Aji Sastrowardoyo ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 6.

[27] Komarudin, Op.Cit., hlm. 457.

[28] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 35.

[29] Komarudin, Op.Cit., hlm. 458.

[30] Op.Cit., hlm. 23.

[31] J.U. Thalib, “Radikalisme dan Islam Phobia”, Islam dan Terorisme (Z.A. Maulani dkk., ed.) (Yogyakarta: UCY, 2003), hlm. 107.

[32] D. Hasan, “Radikalisme Islam: Jejak Sejarah, Politik Identitas, dan Repertoire Kekerasan”, dalam Mu’tasim, (ed.), Model-model Penelitian dalam Studi Keislaman (Yogyakarta: Lemlit UIN Sunan Kalijaga), hlm. 70.

[33] M.Z. Mubarak, Genealogi Islam Radikal di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 2008), hlm. 25. 7

[34] Q. Wiktorowicz, “Radical Islam Rising: Muslim Extrimism in the West”, Canadian Journal  of  Sosiology Online (www.cjsonline, 2006), hlm. 1.

[35] G. Martin, Understanding terrorism: Challenges, Perspectives and Issues, (London” Sage Publication, 2003), hlm. 189-190.

[36] Dakwah Islamiyah adalah mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syariah Islamiyah yang terlebih dahulu telah diyakini oleh pendakwah sendiri; amar makruf nahi munkar adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang berisi perintah menegakkan yang benar dan  melarang yang salah. Dalam ilmu fikih klasik, perintah ini dianggap wajib bagi kaum Muslim; jihad menurut syariat Islam adalah berjuang/usaha/ikhtiyar dengan sungguh-sungguh. Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan agama Allah atau menjaga din/agama tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuanganpara Rasul dan Al-Quran, Wikipedia diakses pada tanggal 29 November 2021.

[37] Nurjannah, “Faktor Pemicu Munculnya Radikalisme Islam Atas Nama Dakwah”  Jurnal Dakwah, Vol. XIV, (No. 2 Tahun 2013), hlm. 184.

[38] Ibid.,

[39] Secara etimologis atau secara bahasa, furu’iyah berarti perbedaan. Perbedaan-perbedaan pandangan, pola pikir, pendapat, paham, dan berbagai perbedaan lain yang seringkali memicu perpecahan. Salah satu contoh fakta saat ini,  Islam telah terbagi-bagi menjadi banyak golongan. Bdk. http://brainly.co.id, diakses pada tanggal 30 November 2021.

[40] Fathul Mufid, “Radikalisme Islam Dalam Perspektif Epistemologi” Jurnal ADDIN, Vol. 10, No. 1, (Februari 2016), hlm. 63-64.

[41] Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial Agama (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 40-41.

[42] Fathul Mufid, Op.Cit., hlm. 63.

[43] Zaprulkhan, Merenda Wajah Islam Humanis (Yogyakarta: Ide sejahtera, 2014), hlm. 89.

[44] Ibid., 63.

[45] Op.Cit., hlm. 41.

[46] Komarudin, Op.Cit., hlm. 462.

[47] Fathul Mufid, Op.Cit., 63.

About dilipost

Check Also

Makna Bahasa Cinta

Oleh: Yohanes Mau.Penulis Misionaris SVD.Sekarang sedang bertugas di Regio SVD Zimbabwe-Afrika. “I belong to my …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Dili Post Channel

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement