Saturday , December 3 2022

Qatar dan Piala Dunia 2022

Oleh:Yohanes Mau
Penulis adalah misionaris SVD.
Kini sedang bertugas di Zimbabwe, Afrika.

Penyelenggaraan Piala dunia tahun 2022 akan segera dimulia pada tanggal 20 November 2022 di Qatar. Tuan rumah Qatar akan melawan Ekuador sebagai laga pembukaan untuk laga-laga selanjutnya oleh 32 team dengan menjunjung tinggi sportivitas hingga muncul team terbaik tampil sebagai juara. Ditelisik dari luasnya negara Qatar sebenarnya belum layak menjadi tuan rumah untuk ajang bergengsi ini. Qatar hanyalah negara kecil dan piala dunia itu gaungnya mendunia dan melibatkan seluruh dunia sehingga besar dan Qatar terlalu kecil. Namun berdasarkan pemungutan suara Komite Eksekutif  FIFA pada 02 Oktober 2010 itu Qatar menggungguli Amerika Serikat dengan 14 suara berbanding 8 suara. Maka itu Qatar menjadi tuan rumah piala dunia tahun 2022.

Team-team besar dari 32 negara akan bertanding di laga internasional ini dengan kekuatan penuh untuk menjadi yang terbaik. Segala persiapan pasti sudah dan sedang dilakukan oleh masing-masing team untuk tampil gemilang memperebut trofi paling berharga di bumi itu. Semua mata manusia akan fokus ke Qatar dan menyaksikan perhelatan luar biasa ini. Selama ini dunia dengan sabar menanti pertandingan bergengsi itu segera terjadi. 20 November 2022 ini akan menjadi jawaban atas lamanya penantian panjang itu. Para fans akan mengandalkan teamnya masing-masing. Qatar akan menjadi negara kecil yang mengukir sejarah di dalam buku sejarah bangsanya sebagai tuan rumah piala dunia 2022. Negara kecil namun memiliki optimis yang tinggi dengan segala antusiasmenya.

Namun di satu sisi negara yang memiliki trofi piala dunia terbanyak di dunia selama ini tidak lolos seleksi masuk ajang piala dunia 2022. Negara yang memiliki piala dunia terbanyak itu adalah Italia. Dua periode berturut-turut Italia tidak lolos dalam piala dunia (2018 dan 2022). Inilah realitas team besar yang memiliki kekuatan dan banyak prestasi namun kandas juga langkah kakinya menuju ajang piala dunia di hadapan team-team dari negara kecil yang tidak tercatat nama di ajang piala dunia selama ini.

Para penggemar bola kaki di seluruh dunia matanya belalak ke Qatar dan menyanjung team kesayangannya masing-masing. Peminat dan penggemar bola kaki akan berusaha sejauh mungkin untuk meluangkan waktu dan menonton. Bahkan para penggemar berat team dari negara tertentu membentuk kelompoknya untuk memberi dukungan secara penuh. Sehingga ada pribadi-pribadi manusia yang sangat fanatik mendukung dan mengandalkan team kesayangannya.

Pada tataran ini saya menganalisa bahwa olahraga bola kaki itu bagai agama baru yang sedang diyakini dan disanjung-sanjung lebih dari hidup beragama itu sendiri. Demi olahraga bola kaki orang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di hadapan televisi dan pergi di stadion untuk mengalami dan merasakan keindahan seni teknik yang dilakonkan oleh para pemain team kesayangannya. Orang bisa relah datang dari tempat yang sangat jauh untuk menyaksikan pertandingan bola kaki. Bahkan kesulitan dan kendala yang menghadanginya pun bisa diupayakan untuk bisa datang ke stadion atau mencari tetangga yang ada televisi untuk menontonnya. Namun hal yang paling aneh adalah orang tidak terlalu aktip di dalam hidup beragama. Misalkan orang tidak terlalu aktip di dalam ibadat-ibadat dan sholat di rumah-rumah ibadat. Alasannya itu ada-ada saja. Capek, sakit, hujan dan lain-lain. Namun minus kreatip mencari jalan keluar untuk hadir di dalam ibadat-ibadat keagamaan. Kalau untuk bola kaki biar sakit, capek dan apa pun cuacanya pasti akan berusaha dan datang. Sehingga fenomena ini saya sebutkan sebagai agama baru di era terkini.

Fenomena bola kaki dipandang sebagai agama baru tidaklah terekkan lagi. Hal ini memang benar-benar terjadi dan terbaca secara jelas di dalam realitas hidup manusia hari ini. Orang akan menyiapkan segala sesuatu untuk menonton bola kaki lebih dari menyiapkan diri untuk menghadiri acara-acara yang bernuansa keagamaan. Agama hanyalah dipandang secara musiman saja. Bila di sana ada hari raya keagamaan orang akan hadir untuk ikut serta di dalamnya. Sedangkan hari-hari biasa orang akan hanyut di dalam realitas harian hingga lupa mengamalkan hidup keagamaannya. Di sini terlihat jelas bahwa agama hanyalah dipandang sebagai perayaan musiman sedangkan bola kaki dan hiburan lainnya menjadi agama baru terkini yang sedang gencar dan manusia memberi ruang dan waktu yang lebih untuk itu. Lantas muncul pertanyaan, apakah bola kaki bisa menghadirkan Tuhan? Kalau bisa mengapa masih ada kekacauan hingga adanya korban nyawa sebagaimana yang terjadi di Stadion Malang- Indonesia beberapa waktu lalu?

Bola kaki sebenarnya keindahan seni yang dilakonkan oleh para pemain dengan segala teknik dan skillnya  di lapangan. Bola kaki adalah olahraga yang sangat indah dan menjadi olahraga terfavorit untuk bangsa manusia di dunia ini.  Olahraga bola kaki akan menjadi seni apabila manusia menjadikan itu sebagai sarana menjalin relasi persaudaraan yang harmonis. Keharmonisan di dalam hidup sebagai manusia yang bermakluk sosial hanya akan terjadi bila orang melibatkan segala rasa dan unsur humanism di dalam olahraga bola kaki. Artinya setiap pemain dari team mana saja bersama para pelatih warga negara, para fans harus berlaku dan bertindak sportif serta menjunjung tinggi rasa kemanusiaan satu terhadap yang lain. Lebih dari itu harus siap untuk belajar menerima kelebihan dan kekurangan dari team lain untuk tampil lebih mantap dan elegant pada pertandingan-pertandingan di masa yang akan datang.

Kembali kepada pertanyaan, apakah bola kaki bisa menghadirkan Tuhan? Bola kaki bisa menghadirkan Tuhan bila di sana kedua team yang bermain sangat menjunjung tinggi sportivitas tanpa saling melukai satu dengan yang lain. Artinya bertanding secara seni dan indah sehingga memberi rasa bahagia dan gembira kepada para penonton dan juga para fans yang menikmati pertandingan tersebut. Seni itu adalah indah dan di dalam yang indah itu menggetarkan hati manusia untuk jatuh cinta. Jika sudah jatuh cinta maka di sana hati sungguh merasa nyaman dan mengalirkan cinta pun tak ada tahan-tahan lagi. Cinta dibiarkan mengalir dan terus mengalir hingga basahi setiap hati yang dilanda oleh resah dan gelisah oleh tawaran dunia yang tak menentu ini.

Kekacauan hanya bisa terjadi oleh karena tidak adanya kematangan emosional dan spiritual dari kedua team yang bertanding dan juga para suporters dari kedua team serta para fans yang menyaksikan pertandingan bola kaki. Maka di sini hal yang dibutuhkan adalah bersikap rendah hati dan siap untuk menerima segala resiko entah kalah atau menang dengan hati yang bangga. Menerima kekalahan dengan hati besar adalah bentuk kematangan emosional serta kebajikan yang menolong untuk berlakon secara manusiawi tanpa menyakiti dan melukai yang lain.

Beberapa hari lagi dunia akan menyaksikan pertandingan bola kaki piala dunia 2022 di Qatar. Team-team kesayangan anda akan tampil dengan kekuatan penuh untuk menang dan menang. Mata dunia akan tertuju ke sana. Qatar akan menjadi besar dan terkenal. Meskipun Qatar di mata dunia hanyalah negara kecil yang letaknya di Asia bagian barat itu tetap memiliki optimis yang tinggi dan menyediakan delapan stadion elite untuk perhelatan piala dunia tahun 2022. Kecil namun secara otak dan sumber daya manusia dan sumber daya alam Qatar bukanlah yang terkecil tapi Qatar juga menyejajarkan diri sebagai negara yang besar seperti negara-negara maju lainnya di planet bumi ini.

Selamat menyongsong piala dunia 2022 untuk ke 32 team yang akan berlaga di Qatar dan selamat menonton semoga dari seni permainan sepak bola anda bisa melihat keindahan. Jangan hanya hanyut di dalam keindahan tetapi jauh lebih dari itu mari amalkan keindahan lewat sikap dan tindakan harian. (**)

About dilipost

Check Also

Makna Bahasa Cinta

Oleh: Yohanes Mau.Penulis Misionaris SVD.Sekarang sedang bertugas di Regio SVD Zimbabwe-Afrika. “I belong to my …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Dili Post Channel

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement