Saturday , December 3 2022

TIMOR-LESTE SEBUAH HISTORISITAS DASEIN DALAM PERSPEKTIF MARTIN HEIDEGGER


Oleh:Antonio Octaviano Marcelo da Cunha
(Alumni Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero)

Abstrak
Artikel ini merupakan ikhtiar penulis untuk menganalisis sejarah masa lalu, pembangunan nasional pasca kemerdekaan, dan masa depan Timor-Leste.

Penulis berpendapat bahwa sejarah perjuangan bangsa Timor-Leste merupakan cikal-bakal nasionalisme yang lahir dari sebuah kondisi faktisitas yang kemudian mendorong bangsa Timor-Leste untuk memperjuangkan hak dan kebebasan mereka dari kekuasaan asing, demi mewujudkan impian mereka sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka. Bangsa Timor-Leste tanpa kompromi dan persetujuan, mesti menerima, dan mengalami situasi hidup yang serba baru yaitu situasi pendudukan asing yang dikuasai oleh kolonialisme Portugis dan neokolonialisme Indonesia. Persis pada titik ini.

Penulis meminjam ungkapan Heidegger bahwa manusia telah mengalami suatu “keterlemparan” atau “kejatuhan” dari dirinya sendiri ke dalam suatu dunia kehidupan yang baru. Di dunia yang baru itu atau “dasein”, manusia mulai memikirkan ulang, merancang kembali dan memulai suatu gaya hidup yang baru. Oleh karena itu, berangkat dari sejarah masa lalu bangsa Timor-Leste; penulis menyadari urgensi tanggung jawab bangsa dan pemerintah, guna mendukung dan membantu proses pembangunan nasional pasca kemerdekaan demi mewujudkan masa depan negara Timor-Leste yang cerah sebagai negara maju, kuat dan makmur.

Kata-kata Kunci:
“Historisitas Dasein”, “Keterlemparan Diri”, Timor-Leste: “Sejarah Masa Lalu”, “Pembangunan Nasional Pasca kemerdekaan”, dan “Masa Depan Timor-Leste”.

Pendahuluan
Timor-Leste sangat tepat mendapatkan julukan Terra Sanguinata. Istilah Terra Sanguinata berarti tanah berdarah. Dalam Perspektif politik, Timor-Leste sebagai wilayah yang selama berabad-abad merupakan wilayah yang bersimpuh darah dan penderitaan, wilayah yang terabaikan, wilayah yang tercabik-cabik menjadi “wilayah rebutan”, “wilayah yang tidak pernah sepi dari perang dan pemberontakan”, “pulau pertarungan berbagai kuasa dan kepentingan pihak luar yang lebih kuat”.

Terra Sangguinata menggambarkan suatu penderitaan yang berkepanjangan dan tiada henti. Proses kolonialisme bangsa Portugis yang berkepanjangan, hampir mendekati lima abad tetap mengurung masyarakat Timor-Leste dalam kegelapan. Masuknya bangsa Indonesia melalui integrasi, yang sedianya menjadi fajar baru bagi rakyat Timor-Leste justru melahirkan lingkaran konflik yang berkepanjangan.

Situasi ini secara radikal menggambarkan bahwa bangsa Timor-Leste tanpa “membuat persetujuan” atau kompromi, mesti menerima dan “menyerahkan” diri ke dalam “perubahan” atau situasi tersebut. Dalam hal ini, bangsa Timor-Leste seperti “dihantar” masuk ke dalam suatu situasi hidup yang serba baru; situasi perang yang ditandai dengan penindasan, segala bentuk ketidakadilan, serta bentuk kekerasan lainnya. Bangsa Timor-Leste serta merta digiring dari suatu dunia yang lama menuju suatu dunia yang baru sama sekali.

Persis pada titik ini, kita ingat ungkapan Heidegger bahwa manusia mengalami suatu bentuk “keterlemparan diri” dari suatu dunia yang lama ke suatu dunia yang baru. Oleh karena itu, di dalam tulisan ini, tesis dasar yang hendak diangkat penulis ialah bahwa situasi perang masa lalu bangsa Timor-Leste merupakan suatu bentuk keterlemparan diri, Geworfenheit, bagi bangsa Timor-Leste, yang sekaligus merupakan sebuah problematika krusial dan risiko konkret bagi kehidupan bangsa.

Menurut penulis, realitas perang yang berlangsung pada masa kolonialisme maupun pada masa neokolonialisme, merupakan suatu situasi destruktif yang turut menghambat pembangunan nasional.Berangkat dari tesis dasar di atas, penulis akan terlebih dahulu menganalisis faktor sejarah masa lalu bangsa Timor-Leste yang ditandai dengan perang saudara, dan juga proses referendum menuju kemerdekaan Timor-Leste sebagai suatu bentuk “keterlemparan diri, Geworfenheit”.

Selanjutnya, penulis akan mengulas secara khusus pemikiran Heidegger, tentang konsep “Historisitas dasein” dalam membuat analisis kritis tentang sejarah masa lalu, pembangunan nasional pasca kemerdekaan, dan masa depan Timor-Leste, yang merupakan satu kesatuan dari pemikiran Heidegger tentang “keterlemparan diri, Geworfenheit”. Bertolak dari seperangkat analisis ini maka tesis dasar ini akan berdampak pada urgensi tanggung jawab bangsa dan pemerintah, guna mendukung pembangunan nasional saat ini demi mewujudkan masa depan negara Timor-Leste yang cerah sebagai negara yang maju, kuat dan makmur.

Timor-Leste: Sejarah Masa Lalu “Suatu Bentuk Keterlemparan Diri, Geworfenheit”
Adanya manusia di dunia sebagai faktisitas eksistensial “yang terlempar”. Keterlemparan, Geworfenheit, bagi manusia merupakan konstitusi dasarnya. Manusia mengalami dirinya “terlempar” di dalam dunia. Manusia tak tahu dan tak menghendaki keberadaan tertentu, tetapi ia menyadari diri di tempat dan waktu tertentu. Hadir dengan segala kemungkinannya. Manusia menemui dirinya di dunia. Sejarah masa lalu bangsa Timor-Leste merupakan suatu bentuk keterlemparan diri. Bahwasannya, bangsa Timor-Leste tanpa membuat persetujuan dan kompromi, mesti menerima dan menyerahkan diri dalam situasi yang ditandai dengan penjajahan Portugis dan pendudukan Indonesia. Oleh karena itu, pada bagian berikut ini penulis akan mengulas secara singkat tentang sejarah masa lalu sebagai suatu bentuk keterlemparan diri bangsa Timor-Leste.

2.1. Masa Penjajahan Portugis di Timor-Leste

Jika menelusuri sejarah masuknya Portugis di Timor-Leste, secara tidak langsung sejarah kolonialisme Portugis yang berlangsung di Timor-Leste selama kurang lebih 500 tahun dapat dipahami juga. Masyarakat Timor-Leste sudah dijajah oleh orang-orang Portugis sejak tahun 1515 sampai 1974.

Masyarakat Timor-Leste yang hidup di bawah kolonialisme Portugis sungguh menderita dan diperlakukan seperti hamba; sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa sistem penjajahan Portugis termasuk sistem yang paling jelek. Kebebasan politik hampir sama sekali tidak ada bagi rakyat yang terjajah.

Negeri-negeri jajahan tidak diberi ruang kebebasan untuk membentuk partai-partai politik sebagai wadah pergerakan untuk kemerdekaan, sehingga kesadaran nasionalisme sebagai sebuah bangsa tidak tampak dalam masyarakat Timor-Leste. Meskipun demikian, masyarakat Timor-Leste akhirnya sadar akan pentingnya nilai kemerdekaan dan muncul keinginan untuk bebas dari kekuasaan penjajahan Portugis, serta dari pemerasan dan pengisapan masyarakat asing.

Rasa nasionalisme sebagai sebuah bangsa yang terus bersemayam di nurani rakyat Timor-Leste terus mendorong masyarakat Timor-Leste untuk memperjuangkan nilai kemerdekaan dan membebaskan diri dari kekuasaan kolonialisme. Beberapa kali rakyat melakukan pemberontakan dahsyat terhadap kolonialisme Portugis. Pemberontakan yang lebih dahsyat ini memakan banyak korban di pihak rakyat. Menurut catatan sejarah, lebih dari 40.000 jiwa rakyat dijagal oleh Portugis.

Dengan demikian, secara eksplisit dapat dipahami latar belakang bangsa Timor-Leste yang pernah dijajah oleh kolonialisme Portugis dan perjuangan masyarakat Timor-Leste untuk melawan negara kolonialnya. Kekuasaan kolonialisme Portugis akhirnya harus berakhir pada tahun 1974, ketika terjadi revolusi besar-besaran di Portugis yang disebut sebagai Revolusi Anyelir atau Revolusi Bunga.

2.2. Masa Pendudukan Indonesia

Setelah kolonialisme Portugis melepas tangan, salah satu poin yang sangat penting dan menjadi tonggak sejarah dalam perjuangan untuk menghapus kolonialisme ialah resolusi sidang umum tanggal 14 Desember 1960, No. 1514, yang memuat asas-asas proses dekolonisasi. Pada intinya mewajibkan PBB dan negara-negara anggotanya untuk segera mengambil langkah-langkah seperlunya agar negeri-negeri jajahan memperoleh kemerdekaan tanpa syarat atau reservasi mana pun sesuai dengan kemauan rakyatnya. Berdasarkan resolusi-resolusi ini, ada tiga pilihan politik yang dibuat Portugal atas wilayah-wilayah kolonialnya, yakni: (1) merdeka penuh; (2) berintegrasi ke dalam salah satu negara; dan (3) tetap bersama dengan Portugal.

Realitas politik ini kemudian memicu situasi politik yang semakin memanas karena adanya persaingan politik. Masyarakat Timor-Leste berlomba-lomba untuk mendirikan partai politik dengan ideologi dan kepentingan politiknya masing-masing. Perbedaan ideologi politik ini, akhirnya melahirkan satu situasi politik yang kontroversial dan menciptakan ruang pemisahan antara masyarakat pro-integrasi dan pro-kemerdekaan.

Bahwasannya, perbedaan ideologi politik ini kemudian menciptakan kondisi yang tidak stabil dan tidak nyaman yang diikuti dengan konflik dan perang saudara. Proses bergabungnya Timor-Leste pada tahun 1975, bagi Indonesia, adalah integrasi yang berarti bahwa sebagian rakyat Timor-Leste ingin bergabung dengan Indonesia, sedangkan bagi Timor-Leste, proses masuknya Indonesia disebut invasi, aneksasi ilegal Indonesia.

Adapun alasan yang mendorong bangsa Timor-Leste memisahkan diri dari negara Indonesia ialah kekerasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh militer Indonesia terhadap masyarakat Timor-Leste. Sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa, tentara Indonesia pada awal masa pendudukan, terindikasi melakukan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia karena mengakibatkan tewasnya ±200.000 warga Timor-Leste.

Pelanggaran-pelanggaran ini meliputi pembantaian penduduk secara acak, pembunuhan di luar hukum, penghancuran sumber-sumber makanan rakyat, ada yang meninggal karena penyakit, siksaan, pemaksaan untuk meninggalkan tempat tinggal, pemerkosaan, dan pemenjaraan tanpa tuntutan hukum. Dengan demikian, dapat dipahami alasannya perjuangan bangsa Timor-Leste untuk memisahkan diri dari negara Indonesia.

Masyarakat Timor-Leste, setelah melewati proses perjuangan yang panjang, di bawah misi pengorganisasian UNAMET (United Nation Mission in East Timor), akhirnya pada tanggal 30 Agustus 1999 berhasil dilakukan pemungutan suara bagi warga Timor-Leste untuk memilih apakah akan tetap bersama Indonesia atau merdeka dan menjadi negara tersendiri. Hasil pemungutan suara yang diumumkan oleh PBB pada tanggal 4 September 1999 menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Timor-Leste menolak tawaran status khusus dengan otonomi luas dan lebih memilih untuk berpisah.

Dengan kedua opsi yang diberikan oleh Presiden B.J. Habibie, segala perjuangan masyarakat Timor-Leste untuk menentukan nasib sendiri dapat tercapai lewat jajak pendapat atau referendum yang telah dilakukan dan dengan demikian kemerdekaan negara Timor-Leste diakui secara internasional sebagai negara berdaulat dengan nama Republik Demokratik Timor-Leste dan diumumkan secara resmi oleh PBB pada tanggal 20 Mei 2002.
Pemikiran Martin Heidegger: “Historisitas Dasein”

Heidegger merupakan seorang Filsuf Jerman yang lahir pada 26 September 1889 di Messkirch, Jerman. Ia merupakan murid dari Edmund Husserl yang sangat cerdas. Pemikirannya mempengaruhi banyak filsuf, seperti Hans Georg Gadamer, Hans Jonas dan beberapa filsuf lainnya. Semasa hidupnya, ia menulis banyak karya. Salah satu karya Heidegger yang sangat termasyhur dan relevan dibicarakan hingga saat ini ialah karya sein und zeit (ada dan waktu). Dalam karya ini, Heidegger secara detail membahas problem seputar dasein atau eksistensi manusia di dunia ini. Dasein, kata Jerman, secara harafiah berarti “ada di sana” dan hal ini lebih mengacu pada eksistensi manusia yang khas dan unik.

Ada di sana berarti “ada begitu saja”, yaitu di sana, di hadapan kita. Ia di sana, ada di dalam dunia begitu saja, tanpa tahu dari mana ia datang dan mau ke mana ia harus bergerak. Dalam hal ini, ia ada di dunia begitu saja. Persis pada situasi ini, Heidegger menyebutnya sebagai suatu situasi “keterlemparan” (Geworfenheit). Artinya suatu situasi yang menunjukkan dasein terlempar ke dalam dunia. “Keterlemparan” dasein dalam pemikiran Heidegger disebut sebagai “kejatuhan” (verfallenheit).

“Kejatuhan” dasein dalam konteks ini ialah bukan kejatuhan dari suatu keadaan alamiah, asali atau semacam dari sesuatu yang lebih tinggi, melainkan kejatuhan dari dirinya sendiri sebagai berada di dalam dunia yang bersifat faktis. Faktis merupakan suatu “ruang” yang di dalamnya tidak ada kompromi dan demokrasi. Dalam hal ini, ia merupakan suatu bentuk “keharusan atau kewajiban” yang mesti diterima. Jadi, “kejatuhan” dasein di dunia ini merupakan kejatuhan dirinya sendiri.

Faktisitas menunjukkan, bahwa ada-nya manusia (human being) itu selalu siap ada dalam dunia. Artinya, keberadaan dalam dunia itu di luar keinginannya, yang adanya manusia tadi terlempar (geworfen). Dunia dalam contoh di sini tidak diterapkan dalam artian yang amat luas, katakanlah seperti, alam antrofisik yang tak terbatas. Demikianlah arti faktisitas, yakni keberadaan ada-nya manusia di dunia sana.

Dalam hal ini, Sindung Tjahyadi mengutip Dinker dan Richardson, yang menegaskan bahwa “Ada” dasein adalah telah-dan-sedang-terlempar. Dengan adanya kesadaran bahwa dia telah-dan-sedang-terlempar, dasein membuka kemungkinannya sendiri, yang diusahakan untuk dapat direalisasikan. Dasein merupakan satu kemungkinan yang konstan dari kemungkinan menjadi diri sendiri atau tidak menjadi diri sendiri. Pergulatan dalam “keterlemparan” ini terjadi dalam “waktu”.

Untuk pikiran umum “waktu” adalah semacam deretan dari “sekarang” yang tidak menentu. Di dalam “sekarang” ini, waktu “lampau’ berada sebagai “sekarang yang telah lewat”, dan masa yang akan datang” diperbuat dalam “sekarang” juga, sebagai bakal dari “sekarang”. Dengan demikian dapat dipahami bahwa konsep historisitas desein sebenarnya merupakan ide dasar dari karya Martin Heidegger “sein und zeit” yang berbicara tentang eksistensi manusia sebagai subjek yang berada dalam temporalitas.

Timor-Leste Sebuah Historisitas Dasein Dalam Perspektif Martin Heidegger

Historisitas mengandaikan bahwa eksistensi manusia dijalankan dalam waktu, atau dengan kata lain eksistensi manusia menurut kodratnya mempunyai suatu struktur temporal. Sejarah perkembangan manusia selalu terkait dengan tiga dimensi kesejarahan, yaitu dimensi lampau, dimensi sekarang, dan dimensi yang akan datang.

Dari ketiganya, hanya sekarang (kini) yang real, masa lampau terangkum dalam sekarang, dan masa depan menjadi proyeksi dari masa kini. Sementara itu, dasein menggambarkan tentang eksistensi manusia di dunia ini. Dasein atau keberadaannya manusia merupakan sebuah fakta eksistensial bahwa dia ada. Keberadaan dasein di dunia ini adalah sebuah faktisitas niscaya yang tak mempunyai alasan.
Timor-Leste dalam konteks historisitas dasein Martin Heidegger, secara jelas tergambar pada tiga dimensi kesejarahan, yaitu masa kolonialisme Portugis dan neokolonialisme Indonesia, pasca kemerdekaan, dan masa depan Timor-Leste. Tiga dimensi kesejarahan ini tidak terlepas dari dasein atau keberadaan eksistensial bangsa Timor-Leste. Penderitaan bangsa Timor-Leste yang berkepanjangan selama masa kolonialisme maupun masa neokolonialisme merupakan sebuah pengalaman keterlemparan yang mengacu pada faktisitas penyerahan diri, bahwasannya bangsa Timor-Leste, tanpa “membuat persetujuan” atau kompromi, mesti menerima dan “menyerahkan” diri ke dalam “perubahan” atau situasi tersebut.

Di tengah situasi yang penuh kekacauan ini, bangsa Timor-Leste mengajukan pertanyaan tentang keberadaannya (dasein), apa yang semestinya dibuat untuk mengubah situasi yang penuh kekacauan itu. Bangsa Timor-Leste merenungkan masa depannya dan mengkaji ulang proses sejarah yang penuh perjuangan untuk mengarahkan diri ke masa depan. Dalam hal ini, penglihatan Heidegger tidak terbatas pada proses psikis, misalnya kesedihan atau tekanan yang dialaminya subjek manusia (contoh: bangsa Timor-Leste). Heidegger melihat sesuatu yang lebih dalam daripada data psikologi itu, yakni suasana hati, yang adalah cara berada dasein itu sendiri. “Suasana hati,” demikian Heidegger, membuat jelas bagaimana seseorang ada dan menjadi.

Menghayati suasana hati bagi Heidegger adalah suatu cara untuk mencandra diri. Suasana hati menyadarkan kita akan keterlemparan kita. Memahami keterlemparan berarti menyadari diri sebagai kemungkinan, dan dalam arti ini memahami selalu mengandung rancangan, yakni proyek hidup yang berorientasi ke masa depan. Dalam konteks Timor-Leste, penulis memahami kata “suasana hati” yang dimaksudkan Heidegger sebagai “spirit nasionalisme” sebuah bangsa yang terus bersemayam di nurani rakyat Timor-Leste dan terus mendorong masyarakat Timor-Leste untuk memperjuangkan nilai kemerdekaan dan membebaskan diri dari kekuasaan kolonialisme dan neokolonialisme.

Suasana hati “nasionalisme bangsa” inilah yang menyadarkan bangsa Timor-Leste akan keterlemparannya dan sekaligus membuka kemungkinan untuk merancang proyek hidup yang berorientasi ke masa depan. Dalam konteks demikian, pemerintah Timor-Leste telah membuat Rencana Strategi Pembangunan Timor-Leste yang merupakan visi dua puluh tahun ke depannya yang mencerminkan aspirasi rakyat Timor-Leste demi menciptakan bangsa yang makmur dan kuat. Rencana tersebut telah dikembangkan untuk mendorong perubahan, mendukung tindakan kolektif bangsa untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

Tanggung Jawab Bangsa dan Pemerintah: Suatu Sikap Adaptasi Terhadap Fakta “Keterlemparan” Menuju Masa Depan Timor-Leste Rencana strategi pembangunan yang dibuat oleh pemerintah Timor-Leste pasca kemerdekaan, bertujuan untuk mentransisikan Timor-Leste dari negara berpenghasilan rendah ke negara berpenghasilan menengah ke atas, dengan populasi yang sehat, terdidik dan aman pada tahun 2030.

Tujuan ini mencerminkan aspirasi rakyat Timor-Leste sebagaimana diungkapkan selama konsultasi nasional yang ekstensif pada tahun 2010 dan didasarkan pada rencana pembangunan nasional 2002 di bawah tema Timor-Leste 2020, Bangsa Kita, Masa Depan Kita. Visi dalam Rencana Pembangunan Nasional 2002 sama relevannya saat ini.

Dengan adanya Rencana strategi pembangunan yang dibuat oleh pemerintah Timor-Leste pasca kemerdekaan, kini Timor-Leste menunjukkan perubahan yang sangat signifikan di berbagai bidang, yakni di bidang infrastruktur, modal sosial dan juga pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat. Namun demikian, harus disadari bahwa, perjalanan Timor-Leste untuk menyongsong masa depan yang cerah masih panjang. Dalam konteks demikian, urgensi tanggung jawab bangsa dan pemerintah terhadap pembangunan nasional sangat diperlukan untuk menyikapi fakta “keterlemparan” bangsa Timor Leste demi menuju suatu masa depan Timor-Leste yang cerah.

Dengan mengacu pada seperangkat analisis yang diutarakan sebelumnya, penulis mengelaborasi solusi konkret berikut ini, bahwa di tengah pembangunan nasional pasca kemerdekaan Timor-Leste, pemerintah mesti menyediakan sumber daya manusia (SDM). Dalam hal ini, upaya menuju bangsa yang mandiri dan berdaya saing tinggi tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dengan program pendidikan nasional. Ini disebabkan tenaga utama penggerak pembangunan nasional adalah produk pendidikan.

Program pendidikan yang dapat menghasilkan sumber daya manusia pembangunan harus diagendakan secara tepat jalur dan menjadi prioritas dalam program pembangunan nasional ini. Bila agenda pembangunan pendidikan berada pada jalur yang kurang tepat dan tidak menjadi prioritas pembangunan nasional dikhawatirkan upaya menjadikan bangsa mandiri dan berdaya saing tinggi sesuai dengan visi pembangunan nasional jangka panjang tidak terealisasi. Oleh karena itu, pemerintah punya tanggung jawab etis dan kewajiban untuk menginvestasi apa yang perlu dan layak untuk peningkatan kondisi kehidupan dasar bangsa lewat kualitas pendidikan yang dapat menghasilkan sumber daya manusia sebagai agen pembangunan nasional, dan bangsa juga harus turut berpartispasi aktif dalam membimbing generasi muda sebagai penerus bangsa yang memiliki karakter yang visioner dan inovatif, sehingga mereka bisa berdedikasi dan bekerja dalam upaya pembangunan nasional selanjutnya. Dengan demikian, sikap adaptasi pemerintah dan bangsa terhadap fakta “keterlemparan” dalam upaya proses pembangunan nasional akan berjalan secara efektif menuju masa depan Timor-Leste yang cerah.

Kesimpulan

Sejarah masa lalu bangsa Timor-Leste merupakan suatu bentuk keterlemparan. Sebab, situasi ini turut mempengaruhi eksistensi dasein bangsa Timor Leste. Dengan mengacu pada pemikiran Heidegger, dasein telah mengalami “keterlemparan” atau “kejatuhan” diri ke dalam dunia kehidupannya sendiri. Di dalam “dunia” yang baru; manusia mulai memikirkan ulang, merancang kembali dan memulai suatu gaya hidup yang baru, guna mempertahankan eksistensinya di dunia ini.

Maka, kemerdekaan bangsa Timor-Leste, sesungguhnya merupakakan suatu wujud rancangan hidup baru bangsa Timor-Leste. Dengan demikian, pemerintah dan bangsa punya tanggung jawab etis dan kewajiban untuk menghasilkan sumber daya manusia sebagai agen untuk proses pembangunan nasional ke depannya demi mewujudkan masa depan Timor-Leste yang cerah sebagai negara yang maju, kuat dan makmur.

Daftar Pustaka
Buku-buku:
Ali, M. (2009). Pendidikan untuk pembangunan nasional: menuju bangsa Indonesia yang mandiri dan berdaya saing tinggi. Grasindo.
Budi, Fransiskus Nong. (2019). Temporalitas Dan Keseharian: Perspektif Skedios Heidegger. Jejak Publisher.
Budi Klede, Paul dan Madung, Otto Gusti. (eds.). (2009). Menukik Lebih Dalam: Kenangan 40 Tahun STFK Ledalero. Maumere: Penerbit Ledalero.
Centre For Strategic and International Studies. (1976). Intergarasi Kebulatan Tekad Rakyat Timor Timur. Jakarta: Yayasan Parikesit.
Coelho, Avelino M. (2012). Dua Kali Merdeka Esei Sejarah Merdeka Timor Leste. Yogyakarta: Djaman Baroe.
Government of Timor Leste. (2011). Timor Leste Strategic Development Plan 2011-2030.
Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher Sampai Derrida. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Hardiman, F. Budi. (2016). Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Jakarta: Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia.
Kingsbury, Damien. (2009). East Timor The Price Of Liberty. Palgrave Macmillan.
Pintu, Julio Tomas. (2015). Dari Invasi Ke Rekonsiliasi: Dinamika Hubungan Falitil-Forca de Defesa de Timor Leste dan Tentara Nasional Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Jurnal:
Aziz, N. (2013). Manusia sebagai Subyek dan Obyek dalam Filsafat Eksistensialism Martin Heidegger (Kajian dari Segi Karakteristik dan Pola Pikir yang Dikembangkan). Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 15(2), 252-265.
Indrawan, J. (2015). Analisis Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Konflik di Timor Timur sebelum Kemerdekaannya dari Indonesia. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, 11(2).
Tjahyadi, S. (2008). Manusia dan Historisitasnya Menurut Martin Heidegger. Jurnal Filsafat, 18(1), 51-63.

About dilipost

Check Also

QUO VADIS O ESPÍRITO JUVENTUDE DA GERAÇÃO ATUAL A PÓS A INDEPÊNDENCIA?

Husi :Naterçia Silveira Pina(Estudante Escola Secundária Geral Católica Colegio Do Verbo Divino Palaca) IntrodusaunHistoria da …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Dili Post Channel

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement